Shmily

Everything Is Going To Be Alright

Inspiration

Leave a comment


Coba baca dengan seksama ambil pelajaran
selamat membaca…

1.Aku Menciptakan Kau !
Sebagai orang yang masih muda dan salah pergaulan, seringkali aku mengajukan protes. Baik terbuka maupun terang-terangan. Baik kepada orang lain, baik kepada orang lin maupun kepada diriku sendiri. Bahkan, baik protes kepada lingkungan, alam dan semua di dalamnya maupun kepada Tuhan.
Seringkali dalam proses keberatanku pada Tuhan dengan segala keangkuhanNya aku berseru dan memaki :
Mengapa Kau tidak pernah berpihak pada kaum lemah ?
Tuhan, Kau sama sekali tidak mendengar dan melihat apa yang kaum tersisih rasakan ! Kau sama sekali tidak berbuat apa-apa !
Tiba-tiba, jauh di dalam lubuk hatiku, aku mendengar suara :
“ Aku sudah berbuat banyak, Aku telah menciptakan kau ! “

Aku diam, menangis dan bersumpah :
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maha Benar Allah dengan Segala FirmanNya.

2.Maafkan Saya bila Saya Mengeluh
mengeluh

Hari ini, di sebuah bus, aku melihat seorang gadis cantik dengan rambut pirang. Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan kuharap akupun sama.
Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan.
Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu.
Namun ketika dia lewat, dia tersenyum.
Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku!

Aku berhenti untuk membeli bunga lili.
Anak laki-laki penjualnya begitu mempesona.
Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira. Seandainya aku terlambat, tidaklah apa-apa.
Ketika aku pergi, dia berkata, “Terimakasih. Engkau sudah begitu baik. Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu. Lihat saya buta.” Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh.
Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.

Lalu, sementara berjalan,
aku melihat seorang anak dengan bola mata biru. Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain. Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya.
Aku berhenti sejenak, lalu berkata,
“Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, Nak?” Dia memandang ke depan tanpa bersuara,
lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar.
Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.

Dengan dua kaki untuk membawa aku ke mana aku mau. Dengan dua mata untuk memandang matahari terbenam. Dengan dua telinga untuk mendengar apa yang ingin kudengar. Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh…

3. Senyuman
Untitled

Senyuman tidak merugikan kita apa-apa tetapi memberikan sesuatu yang luar biasa. Senyuman memperkaya orang yang menerima, tanpa menjadikan orang yang memberikannya lebih miskin. Senyuman hanya memerlukan waktu sebentar, namun ingatan akan senyuman kadang tinggal selamanya. Tak seorangpun yang begitu kaya atau kuat tidak bisa melakukannya dan tak seorangpun yang begitu miskin sehingga tidak bisa diperkaya olehnya.
Senyuman menciptakan kebahagiaan di rumah, memupuk kemauan baik dalam bisnis dan merupakan simbol persahabatan. Senyuman membuat orang yang lelah merasa santai, menguatkan orang yang putus asa, memberikan kehangatan kepada orang yang sedih, dan merupakan obat alam untuk orang yang bermasalah.
Tapi senyuman tidak bisa dibeli, diminta, dipinjam, atau dicuri; karena senyuman adalah sesuatu yang tidak berharga bagi siapapun kecuali jika senyuman itu diberikan kepadanya.
Ada orang yang terlalu lelah untuk memberikan senyuman. Berilah mereka senyumanmu, karena tak seorangpun yang sangat memerlukan senyuman seperti halnya orang yang tidak punya apa-apa untuk diberikan.

4. Tunda
Now-or-Later

Setan sedang menguji setan-setan kecil tentang cara yang bisa mereka gunakan untuk memasukkan orang ke neraka.
“Bujukan apa yang akan kalian gunakan?” tanyanya.
Satu setan kecil mengacungkan jari, “Saya akan memberitahu mereka bahwa tidak ada surga. Surga adalah angan-angan.””Kamu gila,” Setan berteriak. “Setiap orang percaya bahwa suatu hari mereka akan mendapat hadiah di surga atas segala kebaikan yang mereka lakukan. Mengatakan surga itu tidak ada tidaklah berguna.”
Setan kecil lain menjawab, “Saya akan memberitahu mereka bahwa tidak ada neraka.” “Hal itu juga tidak baik,” jawab Setan. “Pada dasarnya setiap orang tahu bahwa suatu hari – di neraka – pelaku kejahatan akan mendapat hukuman. Lupakan bujukan itu.”
Murid yang ketiga berkata, “Saya akan memberitahu orang begini: turutilah nafsumu sekarang dan bertobatlah kemudian. Janganlah tergesa-gesa. Ambillah waktu.”
“Hore!” kata Setan, “dialah yang akan menang. Ayo pergilah ke bumi dan cepat bekerja.”


5.Ketika Tuhan Berkata TIDAK

Ya Tuhan ambillah kesombonganku dariku.
Tuhan berkata, “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya.” Ya Tuhan sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Tuhan berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.” Ya Tuhan beri aku kesabaran.
Tuhan berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”
Ya Tuhan beri aku kebahagiaan.
Tuhan berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri.” Ya Tuhan jauhkan aku dari kesusahan.
Tuhan berkata, “Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku.” Ya Tuhan beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Tuhan berkata, “Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal.” Ya Tuhan bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku.

Tuhan berkata… “Ahhhh, akhirnya kau mengerti !”

6.Kita Tidak Miskin

“Apakah kemiskinan itu, Bu? Anak-anak di taman bilang kita miskin. Benarkah itu, Bu?” “Tidak, kita tidak miskin, Aiko”
“Apakah kemiskinan itu?”
“Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apapun untuk diberikan kepada orang lain.”
“Oh? Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punyai, apakah yang dapat kita berikan?”
“Kau ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini minggu lalu? Kita memberinya sebagian dari makanan kita kepadanya. Karena ia tidak mendapat tempat menginap kota, ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur.”
“Kita menjadi bersempit-sempitan”
“Dan kita sering memberikan sebagian dari sayuran kita kepada keluarga Watari, bukan?”
“Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin. Saya tak punya apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain.”
“Oh, kau punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Pikirkanlah hal itu dan kau akan menemukan sesuatu.”
“Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan. Saya dapat memberikan cerita-cerita saya kepada teman-teman saya. Saya dapat memberikan kepada mereka cerita-cerita dongeng yang saya dengar dan baca di sekolah. Juga cerita-cerita Alkitab dari Sekolah Minggu.”
“Tentu! Kau pintar bercerita. Bapakmu juga. Setiap orang senang mendengar cerita.” “Saya akan memberikan cerita kepada mereka, sekarang ini juga!”

Nampaknya yang perlu ditanyakan bukanlah “Apakah saya punya?”, karena kita pasti mempunyai sesuatu. Melainkan “Apakah yang saya punya?” yang bisa diberikan -waktu, perhatian, cerita, tenaga, makanan, tumpangan, uang, …
Pertanyaannya bukanlah “Seberapa saya punya?”, karena kekayaan sejati lebih ditentukan oleh
“Seberapa saya memberi?”


7.Bisakah Anda Membuatku Mematuhimu?

Pada suatu masa, ada seorang guru yang khotbahnya selalu diikuti oleh banyak orang dari segala lapisan. Ia tidak pernah menggunakan penjelasan yang bersifat skolastik, melainkan berbicara langsung dari hatinya kepada para pendengarnya.
Suatu hari, seorang guru dari sekte lain menghadiri khotbahnya. Ia merasa iri dan bertekad berdebat dengan guru yang populer itu.
“Sebentar guru,” sergahnya, “Orang lain boleh mendengar dan mematuhi apa yang engkau katakan. Tapi saya sama sekali tidak menghormatimu. Mampukah Anda membuatku mematuhimu?”
“Datanglah ke sini dan akan kutunjukkan kepadamu.”
Guru yang iri hati itu dengan angkuh menyibak kerumunan dan duduk di sebelah guru yang sedang berkhotbah. Guru yang sedang berkhotbah itu berkata, “Duduklah di sebelah kiriku.” Guru yang iri hati itu duduk di sebelah kiri sambil mendenguskan hidungnya.
“Lihat, Anda telah mematuhiku. Saya pikir kamu ini orang yang lembut. Sekarang duduk dan dengarkan baik-baik.”

Kalahkan iri hati dan keangkuhan dengan sikap simpati dan rendah hati.

8.Hadiah Sang Ayah

Seorang pemuda sebentar lagi akan diwisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan.
Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu- satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya, bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan keteman-temannya.
Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,… bukan sebuah kunci ! Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Alkitab yang bersampulkan kulit asli, di kulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas. Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, “Yaahh… Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan alkitab ini untukku ? ” Lalu dia membanting Alkitab itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.
Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas. Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.
Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelak terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Alkitab itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu. Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Alkitab itu, dan mulai membuka halamannya. Di halaman pertama Alkitab itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, “Dan kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, bagaimana Bapa-mu yang di sorga akan memberikan apa yang kamu minta kepada-Nya ?” Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Alkitab itu. Dia memungutnya,…. sebuah kunci mobil ! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu. Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru- buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga. Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati……..

HOW MANY TIMES DO WE MISS GOD’S BLESSINGS BECAUSE WE CAN’T SEE PAST OUR OWN DESIRES ??

Terimakasih
Semoga Bermamfaat..

jangan lupa di rate ya

Advertisements

Author: shmily49

saya orang yang ingin tau banyak hal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s